Skip navigation

Lalu apa lagi Bos…? Suara lelah yang serak itu mengalun keluar dari mulut kotor berlidah kering yang kelelahan. Lelah menyebut namanya namun pun tak kunjung selesai segala persoalan. Tak habis-habisnya mendera. Bagai halilintar yang membetot otot jantung. Sementara kau hanya mampu berteriak dalam hati, “SUDAH! STOP! HENTIKAN!” ya, kau hanya mampu melakukannya dalam hati. Karena kau takut bila terdengar oleh orang maka kau terkenal dengan julukan ‘si lemah’, ‘si pengecut’, ‘babi cengeng’. Demi, sebuah penghargaan di muka bumi, kau hanya mampu meneriakkan semuanya di dalam sana. Di tempat yang kau sendiri jarang singgahi.

Tapi kau sudah lelah. Sama seperti penggembala dan domba-dombanya yang tersesat di kaki gunung, atau para peziarah di tengah gurun. Sebuah pencarian akan persinggahan yang melepas lelah, yang sedikit mengalah dari kemenangan. Kalau memang benar adanya bahwa ini bukan tentang menang atau kalah. Mereka bilang ini semua hanya tentang berjuang. Sementara, mungkin sama seperti para prajurit lainnya, kadang kau hanya bosan dengan perang, dengan hujanan peluru-peluru tajam yang terus mengancam denyut-denyut kehidupan, dengan darah, dengan luka, dengan sakit, dengan tuli, dengan bersembunyi, dengan strategi, dengan mati dan dengan kalah. Terkadang, kemenangan atau keberhasilan tidak lahir dari serat-serat garis tanganmu. Terkadang, kau hanya bisa menunggu sambil mengusap keringat di dahimu. Sambil menyumpah serapahi kekalahanmu yang lalu. Sambil menahan marah atas kekalahan yang disebabkan oleh kebodohan satu orang. Memang, simpul-simpul itu bukan kau yang merajut. Sering kali, terlalu sering bahkan, kau terlibat dalam permainan orang-orang dewasa yang tidak kau suka, dan sedihnya, kau bertemu dengan orang-orang serakah yang haus akan kemenangan, yang sering kali bertindak tolol dan mengorbankan tim. Tim, kelompok, kumpulan. Kalau boleh memilih, lebih baik kau tidak berada di dalamnya. Adaptasi yang melelahkan, kompromi yang menjijikan, semua hal yang menggerogoti ke-Diri-anmu sendiri. Karena pada akhirnya kau hanya bisa menerima kekalahan hasil dari orang-orang tolol. Sementara kau sendiri mungkin hanya bisa seperti ketika berada di atas halilintar. Diam dan menjerit tertahan. Karena demi, sebuah penghargaan di muka bumi. Demi cintamu pada kehidupan, pada sang hidup. Yang kemudian memperlakukanmu bagai budak belian.

Ya, kau adalah budak para dewa. Makhluk berkulit hitam berkeringat, berkaki seperti monyet, punggung yang melengkung menahan jeruji kerangka kandangmu. Wajahmu tak dapat melihat ke atas, maka matamu juling menyaksikan kedua jempol kakimu sepanjang hidup. Mereka berbicara dan telingamu ingin mendengar, walau terkadang kau tak paham bahasa para dewa, tapi kau tetap harus mencoba untuk memahami. Lalu kau paham, kau budak belian yang sedang dilelang. Kau diperjualbelikan. Kebebasanmu berpindah dari satu nominal ke nominal yang lain. Maka kau paham arti harga, arti benda bernilai tukar, kau pun paham kebahagiaan manusia selalu berasal darinya. Maka kau kembali menyaksikan kedua jempol kakimu lagi. Bertanya-tanya, berapakah harganya?

            Tapi, kau tidak pernah mengerti arti kekalahan yang terus kian berulang. Kau pun tak mengerti lagi arti penantian. Karena menanti berarti masih ada yang dinanti, walau selalu ditemani yang tidak pasti. Menanti berarti masih ada harapan, walau tinggal seujung kuku kucing. Sementara kau telah tidak lagi mengerti, apa lagi peduli. Kau telah menjadi purba, di tengah-tengah dunia yang mengelotokkan wajah tolol berganti potret manusia moderen yang bertombol. Kau, adalah manusia purba yang memaksa bermain computer. Kau, adalah zombie yang merengek pada ibumu untuk dirayakan ulang tahun. Kau, adalah manusia menyedihkan, manusia paling malang di antara peran lain di dunia. Kau, adalah artis yang pandai berperan dalam naskah “Orang-Orang Malang”. Kau, adalah mahakarya terbaik sang dewa. Kau, adalah bukti pantas kehebatannya, kezalimannya, kejahatannya, kecerdasannya, keadilannya. Kau, adalah orang-orang pengait yang hanya ada demi pembuktian, bahwa kemenangan itu ada, keadilan itu ada, kehidupan itu ada. Tapi itu semua hanya terjadi bagi yang lain. Bagi yang lain. Bagi yang lain. Bagi yang berhak mendapat selamat. Yang berhak menepuk dada. Yang berhak tertawa pada dunia. Yang berhak berteriak, “AKU BISA! AKU MENANG!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: