Skip navigation

Untuk kesekian kalinya bencana Schopenhauer menyerangku..

Ajakan kematian datang lagi..

Ajakan kematian datang lagi..

Apakah tak lagi tersisa Nietzsche dalam diriku?

Lalu untuk apa semua ini?

Aku sedang membangun menara yang tinggi sekali!!

Haha..

Haha..

Haha..

“Omong Kosongist!!” Kata Abet selalu menyindirku.

“Tapi tentu tak ada yang tahu bahwa aku menyimpan rencana besar. Sebuah rencana yang semua orang tak akan dapat mengira. Semuanya sudah ada di kepala. Tinggal menunggu waktu yang tepat.”

“Ya, tinggal menunggu waktu yang tepat.”

“Atau mati.”

Haha..

“Bisa saja kan semua itu hilang..dalam kematian.”

Pilihan itu selalu ada. Dan belakangan ini selalu menerorku seperti gerak ribuan atom dalam angin lembubu, yang dulu sekali, katanya, pernah menghancurkan sebuah kaum. Al-Qur’an menyebutnya kaum Ad. Sebagai informasi bagi yang belum tahu, kaum ini disebutkan sebagai kaum yang memiliki peradaban tinggi. Mereka membuat bangunan-bangunan yang tinggi. Namun, entah kenapa mereka dihancurkan dengan angin lembubu.

Mungkin itu yang akan terjadi pada menara yang sedang kubangun. Semuanya akan hancur oleh teror angin berupa bisikan-bisikan jahat Schopenhauer dalam pertarungannya dengan Nietzsche, bisikan-bisikan mengajak mati.

Tapi aku tahu aku takkan mati, setidaknya tidak oleh kesengajaanku sendiri. Aku bukan penganut Schopenhauer. Aku adalah NIETZSCHEAN. Catat itu!!

Aku tahu aku takkan mati..

Aku tahu aku takkan mati..

Kata-kata itu yang selalu kutanam di kepalaku. Walaupun kadang aku bingung apakah aku tetap hidup karena aku memutuskan untuk tetap hidup, atau aku terlalu tidak bernyali untuk membunuh diriku sendiri seperti yang dulu-dulu.

Dulu, beberapa kali panggilan kematian hampir kujawab. Ada dua yang paling kuingat. Pertama, ketika sebilah pisau telah siap menjawab panggilan itu. Tapi nggak jadi. Kenapa? Mudah saja, karena aku pengecut. Aku terlalu tidak bernyali untuk membunuh diriku sendiri dengan sebilah pisau.

Haha..tidak menarik.

Tunggu dulu, masih ada cerita kedua. Waktu itu aku menenggak sebutir “I”, dan reaksinya gila! Kenceng abis!! Serotoninku teraduk cepat sehingga saat itu yang kurasakan adalah perasaan sangat senang dan bahagia. Anehnya, belum pernah seumur hidup aku memiliki perasaan sebahagia itu. Dan, kata-kata yang spontan terpikir saat itu adalah aku harus mati saat ini.

“Koy, gw harus mati hari ini!!” bisikku pada Kokoy.

Alasannya? Tentu saja sebagaimana alasan semua orang yang menghargai hidup dalam kebahagiaan..mati dalam kebahagiaan tertinggi!

Tapi lagi-lagi semuanya gagal. Amphetamin dalam MDMA itu tidak berujung pada kenaikan level yang terus menerus. Padahal aku sudah berusaha terus memacunya hingga harapanku akan mencapai titik puncak, dan aku mati pada titik tertingginya. Tapi ternyata tidak. Perlahan-lahan pengaruhnya menurun dan terus menurun hingga akhirnya aku mencapai kesadaran dalam sebuah fase yang biasa disebut orang sebagai fase basi’an. Dan, semuanya gagal. Aku tidak jadi mati hari itu. Aku tidak jadi MATI hari itu.

Haha..sama-sama tidak menariknya.

Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak pernah menyesal. Bahkan ketika keinginanku gagal terpenuhi. Buat apa menyesal? Buang-buang energi. Bagiku menyesal adalah pilihan irrasional. Bagi seseorang yang berpikir dengan menggunakan logika, penyesalan tidak boleh ada. Alasannya, karena memang sesuatu yang telah terjadi memang yang seharusnya terjadi, tak ada yang bisa mengubah itu, tak ada yang bisa mengubah masa lalu. Oleh karena itu penyesalan tidak boleh ada. Tapi ingat, tidak boleh ada bukan berarti tidak bisa ada. Penyesalan bisa ada, tapi hanya buang-buang energi, sementara kenyataannya masa lalu tidak bisa diubah. Dengan demikian aku tidak menyesal karena tidak jadi mati, baik itu karena ketidakbernyalianku untuk membunuh diriku sendiri, maupun karena ketidakberhasilanku mencapai kematian pada titik puncak kebahagiaanku.

Justru karena itu, hingga saat ini aku masih bisa menghisap ganja, menghirup Heroin, menenggak “I” dan pil-pil lainnya seperti Rivotril, Dummolid, Valium, Calmlet, dan masih banyak lainnya. Justru karena itu pula hingga saat ini aku masih bisa menari di lantai dansa, bekerja, melihat orang ketabrak kereta, membaca berita pembunuhan dan pemerkosaan di koran-koran, dan masih banyak lainnya. Justru karena hal itu juga hingga saat ini aku masih bisa mendengar bisikan Schopenhauer yang selalu mengajakku mati.

Itulah indahnya tidak punya rasa menyesal. Kamu akan selalu menikmati segala apa yang terjadi di dunia ini sebagaimana semesta menghendakinya.

Tapi jangan salah kira, selalu menikmati segala apa yang terjadi di dunia ini sebagaimana semesta menghendakinya bukan berarti pasrah menerima tanpa memiliki kehendak untuk menjadi bagian dalam proses gerak semesta. Itulah bedanya semangat pesimisme Schopenhauer dan semangat optimisme Nietzsche. Pesimisme Schopenhauer mengajak untuk selalu menerima dan pasrah tanpa penempatan diri sebagai bagian dari proses gerak semesta. Artinya kamu mematikan peran kamu dalam semesta. Tapi tidak demikian dengan optimisme Nietzsche. Optimisme Nietzsche mengajak untuk selalu menikmati segala apa yang terjadi di dunia ini sebagaimana semesta menghendakinya, sekaligus menempatkan diri sebagai bagian dari proses gerak semesta. Artinya kamu turut ambil peran dalam semesta.

Itulah indahnya menjadi seorang Nietzschean. Kamu akan terus membangun menara yang tinggi, walaupun kamu tahu angin lembubu terus bertiup berusaha menghancurkan apa yang sedang kamu bangun. Jika angin lembubu menghancurkan menaramu, bangun lagi, hancur lagi, bangun lagi, demikian seterusnya.

Kuncinya adalah berikan penghargaan pada setiap hal, termasuk apa yang kamu definisikan sebagai “bencana”. Jadikan bencana sebagai bagian dari proses gerak semesta, bukan sebagai suatu nilai yang negatif, kecuali untuk proses pembelajaran.

Badai misalnya, merupakan proses kondensasi alam ketika telah terjadi ketidakseimbangan pada suhu alam. Gempa dan Tsunami, merupakan bagian dari proses gerak terus menerus dari semesta. Mekanisme Alam tidak memiliki nilai baik dan buruk. Alam hanya terus bergerak berdasarkan suatu hukum dan mekanisme yang tetap. Proses gerak semesta menghasilkan tarian kosmos, pada saat yang bersamaan gerak itu memunculkan efek getar, atau yang biasa dikenal dengan bunyi; alam juga bernyanyi.

Alam hanya menari dan bernyanyi..

Alam hanya menari dan bernyanyi..

Ikutilah iramanya..walaupun tarian dan nyanyian alam tidak tak memiliki hentakan-hentakan yang berubah-ubah. Proses gerak alam berfluktuasi menghasilkan badai, tsunami, gempa, gunung meletus, sekaligus keseimbangan suhu, pahatan rupa daratan, kesuburan dan lain sebagainya. Seperti tarian Shiva, menghancurkan untuk merangkainya kembali.

Teruslah membangun menara yang tinggi, walaupun angin lembubu masih bertiup..Nikmatilah kehendak semesta..

Aku akan terus membangun menaraku, walaupun bisikan kematian selalu memanggil..

Sebagaimana setiap malam..

Sebelum tidurku..

Tanpa ada yang tahu..

Kupersembahkan ritual itu..

Kusebut mantra itu..

Advertisements

5 Comments

  1. Wek.. Nietzschean juga ya, bro?
    Salam kenal..

  2. Saya ingat ada lawakan lucu.

    Di sebuah Universitas, ada mahasiswa menulis di dinding, “Nietzche bilang, Tuhan sudah mati.”

    Tahun berikutnya, setelah Nietzche wafat, seorang dosen menulis diatas tulisan yang tadi, “Tuhan bilang, Nietzche sudah mati”

    Semoga lucu

  3. @ Nuragus

    lucu juga…. tapi linknya mana mas?

  4. Lupa. Kalau nggak salah ada di buku “Sophie’s World”

  5. Nietzche bukanlah seorang optimist, filsuf yang menajarkan optimisme sesungguhnya adalah Leibniz. Pesimisme juga memiliki peran di dunia ini.
    Bila optimist membuat pesawat, maka pesimist akan membuat parasut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: