Skip navigation

Kau bilang Adam berdosa gara2 hasutanku? kalau begitu, atas hasutansiapa aku melakukan dosa? aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan-Nya. Mau bagaimana lagi? tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri.

Aku menyembah Tuhan selama 700ribu tahun! tak ada tempat yang tersisa di langit dan di bumi dimana aku tak menyembah-Nya. Setiap hari aku berkata pada-Nya, “ya Tuhan, anak keturunan adam menolak-Mu, namun Engkau tetap bermurah hati dan meninggikan mereka. Tapi aku yang mencintai dan memuja-Mu dengan pemujaan yang benar, Engkau buat jadi hina dan buruk rupa”. Aku tak ingin bersujud pada Adam dengan satu alasan yang benar karna aku tak ingin mencintai dan sujud selain pada-Mu..

-IBLIS-

Advertisements

38 Comments

  1. Bukankah Iblis berusaha menyaingi Allah? Bukankah iblis ingin mengkudeta Tahta Suci?

    Wah, rupanya kitab kita berbeda, Bro.

    • kamu sendiri …goblok

    • Iblis tidak menyaingi Allah. dia hanya tidak taat karena kesombongannya. Mungkin merasa sudah ibadah ribuan tahun, merasa tauhid. tetapi Tuhan mungkin tahu ada satu celah di jiwa Iblis untuk diuji, yaitu ketaatan. Tuhan ada untuk ditaati. tidak untuk dilecehkan. Malaikat Jbril ibadah selama ratusan ribu tahun sejak diciptakan, dan ketika diminta hormat kepada Adam, ia tidak membantah. demikian juga para malaikat yang lain. Mereka diberi tugas untuk menservice manusia OK OK saja. Yang harus dipahami oleh anda-anda adalah soal pelecehan terhadap Allah.

  2. @ dewo

    sorry bos.. dah lama ga buka injil
    tapi setau gue iblis ga pernah manyaingi Allah, dia ciptaanNya ko’, justru cintanya iblis jauh diatas cintanya manusia ke Allah. Apalagi mengkudeta.. kalo you beranggapan begitu berarti Tuhan dan iblis setara dong? punya kuasa yang sama? bukan Tuhan namanya kalo ada mahluk yang sama kuasanya sampe bisa berusaha dikudeta??
    kaya’nya you musti banyak belajar lagi masalah keTuhanan nih..

  3. hei menurut saya tuhan dan iblis hanya ada di cerita2/kitab2 dan pikiran kita. tanpa kita, manusia, mereka (tuhan dan iblis) sama2 tak bermakna.

    ah semoga semua makhluk bahagia dan tercerahkan 🙂

  4. jangan menyesatkan anak muda.
    memangnya cerita di atas sudah pasti benar?
    sumbernya darimana?

  5. @ brainstorming

    loh ternyata ente sohibnya bro dewo juga yah ?

    salam kenal 😀

    untuk urusan injil dan gereja, ndak ikutan deh saya… 😀

  6. @ joyo

    justru itu tujuan manusia dikasih otak.. ya buat mikir

    @ ratu

    hati2 dengan kata “sesat” lho jeng, banyak yg tersesat gara2 nyari jalan yg ga sesat.
    jeng ratu, kebenaran itu sifatnya relatif, kebenaran hanya milik para penguasa. kalo situ dah bisa jadi penguasa situ bisa bikin kebenaran baru dan kesalahan baru.. ok

    @ retorika

    wah bro dewo itu salah satu inspirasi, saya cuma pemain baru disini.. hehe
    lam nal juga bro thanx
    hehe… sapa bilang ane kristen?? kalo kita menganggap semua kitab itu adalah buku buat dibaca ga ada salahnya kan? jangan terlalu mensakralkan kitab, bisa sesat ente.. kaya’ salafy lo ntar..

  7. @ br$instorming

    nggak, untuk urusan agama saya tergolong netral-apapun agamanya si terserah, kan demokrasi pancasila.

    kecuali yang sudah menyimpang seperti manhaj salaf baru ikut perang :mrgreen:

  8. Kyknya saya pernah baca deh ini…
    Dpt dr mana ya???

    Memang iblis itu dr segi keilmuan&kecintaan termasuk yg tinggi diantara malaikat..tetapi satu hal yg menghilangkan sifat baiknya dia adalah KESOMBONGAN IBLIS..

  9. @ ghazanx

    dapet dari Iblis mas.. hehehe

  10. klo ngga salah ini refiew nya ya bro..

    Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri.

    Aku menyembah Allah selama 700 ribu tahun! Tak ada tempat tersisa di langit dan bumi di mana aku tak menyembah-Nya. Setiap hari aku berkata pada-Nya, “Ya Allah, anak keturunan Adam menolak-Mu, namun Engkau tetap bermurah hati dan meninggikan mereka. Tapi aku, yang mencintai dan memuja-Mu dengan pemujaan yang benar, Engkau buat menjadi hina dan buruk rupa.”

    Lihatlah segala penderitaan dan kesengsaraan yang telah ditimpakan-Nya atas dunia ini. Lihatlah betapa Monster itu melakukan semuanya hanya untuk menghibur diri! Jika ada yang terlihat murni, dibuat-Nya ternoda! Jika ada yang manis, Dia buat masam! Jika ada yang bernilai, dibuat-Nya jadi sampah! Dia tak lebih dari sekadar Badut dan Pesulap Murahan, Pembohong Gila! Dan kegilaan-Nya masih terus membuatku lebih gila lagi!

    The Madness of God menjadikan ketergelinciran Iblis, dan dakwaannya kepada Tuhan karena telah “menyesatkannya”, sebagai landasan bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai kemungkinan kehendak-bebas di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Pertanyaan yang berulang kali diajukan adalah: jika Tuhan Mahakuasa, dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin makhluk dapat disalahkan karena dosa-dosanya?

    Seiring dengan bergulirnya cerita, pembaca akan tenggelam dalam keyakinan tentang keesaan, kemahakuasaan, dan keadilan Tuhan. The Madness of God penting dibaca oleh para monoteis yang kritis. Shawni meramu adikaryanya ini dengan gayanya yang amat unik dan khas. Novel ini, terlepas dari judulnya yang provokatif, merupakan usaha Shawni dalam menyelaraskan keimanannya dengan akalnya.

    ALKISAH, seorang pendeta bernama Buhairah menarik diri dari gereja dan memutuskan hidup menyepi. Dalam kesendiriannya, dia menenggelamkan diri ke dalam kajian tehadap buku-buku Kristen. Namun upaya itu tak berhasil menghilangkan “kegelisahan” teologisnya.

    Suatu saat, di dalam satu buku, Buhairah menemukan sebuah ramalan. Tentang tanda kenabian yang akan dilihatnya pada punggung seorang bocah kecil. Sebagaimana tercatat dalam sejarah Islam klasik, pada akhirnya Buhairah menemukan tanda kenabian itu di punggung muhamad SAW, yang kelak diangkat menjadi Rasul Allah.

    Berangkat dari momentum pertemuan antara Buhairah dan Muhammad, Al Shawni memulai kisahnya. Tokoh Buhairah yang digambarkan sedang mengalami skeptisisme personal terhadap keesaan Tuhan diajak Rasulullah. Dia dibawa ke sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, yang hanya diterangi kerlip dan redupnya bintang.

    Di kesunyian itu, Buhairah mengalami komunikasi trsnsendental dengan sosok makhluk gaib yang tak lain adalah iblis. Mulai dari titik ini, pengarang menunjukkan “keliaran” imajinasi untuk meruncingkan konflik di dalam “tubuh” novelnya. Dengan teknik dan langgam penggisahan yang unik, Al-Shawni mendeskripsikan egosentrisme iblis.

    Ketika pendeta Buhairah mempertanyakan latar belakang kesombongan iblis yang menolak sujud pada Adam, pengarang memanfaatkan moen itu untuk merumukan dalil-dalil filosofis dalam rangka menarasikan penggugatan iblis. Jelas sekali, Al-Shawni hendak menggelindingkan diskursus baru tentang riwayat pembangkangan iblis yang menolak sujud pada Adam.

    Menurut Al-Shawni, penolakan iblis, yang kelak menjadi sebab keterkutukannya, bukan karena latar belakang ontologism. Bahwa iblis diciptakan dari api, sementara Adam hanya diciptakan dari tanah, sebagaimana penafsiran konvensional. Namun justru karena eksistensi Adam adalah pencerminan dosa-dosa iblis. Jadi, mana mungkin iblis mau bersujud pada cermin yang memantulkan buruk rupa wajahnya sendiri?

    Bagi khalayak pembaca umum, membaca karya sastra adalah “menikmatinya”, bukannya menggali aspek-aspek kebenaran epistemologisnya. Jika pada paragraf-paragraf awal sebuah novel pembaca tak berhasil “meraih” kenikmatan dengan gambang mereka akan menutupnya.

    Tetapi, sebagaimana diusung oleh Al-Shawni di dalam buku ini, barangkali membaca sastra tak cukup kalau sekedar menikmati. Pembaca perlu pemahaman yang intens, penafsiran kritis, dan yang lebih penting adalah penyingkapan misteri kebenaran epistemologis karya sastra sampai ceruk paling dalam.

    Dalam buku ini, Al- Shawni seperti sedang mendadani karakter bejat iblis dengan jubah kebesaran filsuf yang penuh aura kearifan dan kejeniusan. Ia berhasil menggunakan metode adab al-jadl. Metode ini semacam kode etik berpolemik di kalangan pemikir muslim Abad Pertengahan, seperti muncul pada debat Buhairah dengan iblis.

    Rentang panjang durasi konflik yang “meresahkan” itu, jika tak dilihat dengan ketajaman intuisi, bisa jadi akan melahirkan pembelaan atau bahkan pemenangan argumentasi iblis. Di sini, Al-Shawni tak hanya “menghidangkan” preposisi-preposisi logis untuk mendeklarasikan penggugatan iblis. Ia juga memperkuat argumentasi rasional dengan “meraih” metafora-metafora yang memukau dan sesekali mengejutkan.

    Ketika Buhairah berupaya menyudutkan identitas iblis dengan stigma determinime kutukan Tuhan, dengan lihai Al-Shawni membela iblis. Caranya dengan menceritakan kisah Nabi Sulaiman yang sedang murka karena dikhianati burung bulbul, sahabatnya. Burung itu diperingatkan agar jangan menemui Sulaiman dulu, sebab emosi raja sedang memuncak.

    Dikabarkan, Sulaiman berniat membunuh burung bulbul. Tapi, anehnya, bulbul bukannya takut pada ancaman sang raja. Bulbul justru bercicit kegirangan penuh suka cita. Riwayat Sualaiman dan burung bulbul ini, menurut Shawni, relevan dengan problem kemurkaan Tuhan pada iblis. Artinya, kemurkaan Tuhan pada iblis justru merupakan pertanda kedalaman cinta Tuhan kepadanya.

    Dengan kata lain, dilaknati atau dimuliakan oleh Tuhan sudah tak berarti apa-apa lagi bagi iblis. Sebab esensinya adalah kadar kedekatan Tuhan dengannya. Sehingga kutukan pun dapat berubah menjadi berkah. Membaca “kenakalan” pikiran novelis ini, terasa Al-Shawni tak sekedar menggugat dogma keterkutukan iblis.

    NOVEL INI JIKA TIDAK DIBACA HATI-HATI, SANGAT BERPOTENSI “MENGGODA” PIKIRAN PEMBACA UNTUK MEMBELA BAHKAN MEMENANGKAN GUGATAN IBLIS

    bro.. semua itu hanyalah muslihat dan tipu daya iblis agar kesalahan dan fitnah yang dilakukannya dipandang menjadi sebuah “KEBENARAN”, maka janganlah termakan hasutan iblis.. ingat tujuan utama iblis adalah menyesatkan manusia

    apakah anda termasuk orang yang termakan hasutan iblis…??? hanya diri anda yang tahu jawabannya

  11. SAYA AKAN MEMBERIKAN SEBUAH CERITA “IBLIS MENANGIS”..
    JIKA KITA TIDAK MENELAAH BAIK2 CERITA INI MAKA IMAN KITA BISA TERGELICIR SO.. ANDA BEBAS MENENTUKAN PILIHAN..

    “IBLIS MENANGIS”

    Aku baru saja bangun dari tidur. Berjalan menyisiri meja makan yang sama sekali tidak ada makanan di atasnya. Aku mulai membuka pintu, mempersilahkan udara pagi yang segar masuk dan menempati setiap sudut ruangan. Aku mulai melihat pekarangan rumah sambil meletakkan tangan di pinggang, lalu membuat gerakan memutar pinggulku ke kiri-kanan. Gemeretak bunyi tulang punggungku terdengar begitu nikmat. Entah mana yang lebih nikmat, bunyinya ataukah rasanya? Aku tidak mau berpikir lebih lanjut. Ada kenikmatan lain yang ditawarkan alam padaku. Tapi sayang, ketika aku mulai merasakan nikmatnya udara pagi, aku dikejutkan oleh sesosok, seekor atau seonggok? Walaupun aku belum yakin benar makhluk apa itu, tapi sepertinya aku mengenalnya. Melihat dari sosoknya yang besar, seluruh tubuhnya yang berwarna merah dengan dua tanduk di kepalanya yang plontos serta ekor yang panjang dengan ujung berbentuk anak panah. Yah..aku yakin kalau dia iblis. Mungkin aku terlalu banyak menonton film Hollywood yang selalu mendeskripsikan iblis dengan bentuk seperti itu.

    Mendadak rasa takut datang menghampiriku. Kuamati lekat mencari kebenarannya. Apakah ini patung? atau memang benar-benar iblis? Tanpa reaksi yang panjang, aku mencopot sandal kiriku dan melempar ke arahnya. Tapi sayang, aku melempar tanpa bidikan yang jitu. Sandalku hanya melewati tubuhnya yang seram itu. Kali ini aku mengusirnya dengan suara yang agak keras.

    “Hus…sana pergi!” Tapi dia masih tetap berada di teras rumahku.

    Aku mulai khawatir dengan reaksi iblis ini, mungkinkah dia akan marah dengan mengeluarkan segala kekuatannya untuk menyerangku? Tapi tidak! Bukankah aku orang beragama? yang diciptakan, tunduk dan takut pada Tuhan semata. Bukan takut pada makhluk yang sama-sama di ciptakan oleh Allah, Tuhanku. Jadi, kuberanikan diri untuk mendekatinya dengan sisa sandalku yang kuacungkan sambil berancang-ancang untuk teriak sekeras mungkin. Tapi yang kulihat membuatku terkejut. Lho? Ia menangis! Mataku tertuju pada matanya yang berair. Bulir air mata tampak satu-satu turun dari sudut matanya. Ia menoleh dengan sudut lebih besar, sehingga wajahnya kini terlihat lebih jelas. Tak terlalu buruk untuk ukuran Iblis, walau tentu saja aku tidak pernah tahu gambaran wajah Iblis sebenarnya.

    “Mengapa?”, tanyanya.

    “Kau begitu takut padaku?”

    Tentu saja aku takut padanya. Siapa manusia yang tidak takut Iblis? Tapi seperti yang kukatakan, orang beragama diajarkan hanya takut pada Allah, pada Tuhan yang kita sembah. Dan aku orang beragama, jadi aku berbohong padanya. “Aku tidak takut sedikit pun padamu!”

    Ia mendesah, terdengar seperti desahan kakek-kakek tua.

    “Walaupun aku adalah raja dari kaum-ku? Pemimpin dari segala Iblis?”

    “Walaupun kamu raja dari segala raja biang setan di seluruh dunia dan akhirat”, jawabku.

    Entah siapa yang aku coba yakinkan, dirinya atau diriku sendiri.

    “Sungguh?Kau tidak berdusta?”, tanyanya.

    Aku agak ragu-ragu juga untuk menjawab. Berdusta itu dosa bukan? Iblis ini memang sialan. Hanya dalam beberapa detik bercakap dengannya, aku sudah melakukan satu dosa. Atau mungkin dua? Apakah melempar sandal ke arah sang Iblis termasuk perbuatan dosa? Entahlah, mungkin nanti aku periksa dalam kitab suci, kalau-kalau ada ayat yang menyatakan tentang itu. Yang jelas, kalau aku menjawab pertanyaannya kali ini, berarti aku sudah berbohong dua kali.
    Jadi aku diam saja. Agak mengangguk sedikit. Semoga mengangguk kecil tidak termasuk berbohong.

    “Lalu kenapa aku harus pergi?” tanyanya lagi. “Apakah dengan duduk disini sudah demikian mengganggumu? Atau kau demikian benci padaku?” Iblis mulai berspekulasi macam-macam.

    “Kau ini Iblis. Bahkan katamu kau raja dari segala Iblis. Tentu saja aku benci padamu. Apa yang kau harapkan? Aku mencintaimu? Edan!”

    Iblis itu menunduk. Lalu mulai menangis seperti anak kecil. Tersedu-sedu, kepalanya mengangguk-angguk.

    “Permainan apa yang ingin kau hadirkan padaku Iblis? Hentikan tangismu! Kau bisa membangunkan seisi rumahku!”
    .

    “Kau orang baik. Sepertinya kau juga orang taat. Tapi mengapa begitu kasar?”

    “Kepada Iblis tidak ada larangan berkata kasar.” sahutku.

    “Begitukah?” tanyanya hampir pada dirinya sendiri. “Yang dilarang bukan perbuatannya tapi kepada siapanya?”

    Brengsek! Aku sadar kemana arah pertanyaannya. Lebih brengsek lagi, gugatannya memang benar. Dalam banyak hal, perbuatan memang dilarang bukan atas perbuatannya, tapi pada siapanya. Membunuh pun jadi halal ketika diletakkan pada orang yang pantas untuk dibunuh.

    “Tahukah kau mengapa aku sedih?” Tanyanya.

    “Kau hendak menggodaku, Iblis?” Sergahku. “Jangan kau coba-coba. Aku tidak akan beranjak dari keyakinanku untuk mengikutimu.”

    “Aku hanya bertanya,” sahutnya. “Mestinya kau berempati pada mahluk yang tengah kesusahan.” Jawab iblis.

    “Iblis kesusahan?” kataku sambil sedikit tertawa sinis. “Tentu saja kau akan kesusahan sejak kau menantang Allah! Dan tidak ada empati untuk mahluk penentang Allah.” Aku sengaja mengatur nada suaraku agar terdengar sangat sinis. Empati. Memang kau siapa? Untuk korban kejahatan, korban bencana alam, kaum dhuafa, empati tentu saja wajib diberikan. Tapi untuk Iblis macam kau? Untuk manusia sampah masyarakat, penghancur tatanan sosial masyarakat seperti bandar-bandar narkoba atau koruptor saja tidak ada empati untuk mereka. Dan itu semua karena ulahmu Iblis.

    Iblis ini benar-benar hebat. Dia pintar sekali mengeluarkan alibi-alibi yang membuat aku mulai bingung tentang keberadaan Allah dan malaikat yang sejak tadi aku tunggu-tunggu kedatangannya untuk menemaniku melawan iblis, si biang jahat! Apa yang dilakukannya benar-benar sesuai dengan reputasinya. Lamunanku terhenti ketika Iblis dihadapanku mulai berkata-kata lagi.

    “Banyak manusia yang bilang bahwa aku menentang Allah? Itu tidak benar!” Wajahnya lebih menunjukkan raut bingung ketimbang marah.

    “Aku cukup hapal cerita kitab suci tetang pemberontakanmu menantang Allah. Kalau kau menolak, dusta memang sudah menjadi sifatmu bukan?” Ia tampak tidak memperdulikan cercaanku.

    “Sesungguhnya, aku seperti ini juga atas perintah Tuhanmu, Allah. Percayalah itu wahai manusia.” katanya perlahan. “Allah memerintahkanku untuk mencobai manusia, untuk menggoda manusia, menguji sejauh mana ketaatannya pada Allah. Apakah itu berarti menentang Allah?”

    Ia menoleh padaku dan melanjutkan kata-katanya, “Kalau Iblis menentang perintah Allah untuk menguji manusia, apakah ada Iblis yang menggoda manusia? Bukankah semua terjadi atas ijin-Nya? Mengapa manusia harus membenci aku? Bukankah ini just business and nothing personal.” katanya dengan raut tidak berdosa. Sesaat aku ingin memakinya. Tapi ia melanjutkan lagi kata-katanya.

    “Inilah yang aku sedihkan sebenarnya. Mengapa kalian manusia begitu membenci aku. Sedangkan aku hanya bekerja sesuai apa yang diberikan Allah padaku. Apakah kalian tidak tahu kalau aku tidak berkuasa apa-apa atas kekuasaan Allah?”

    Aku kehabisan kata-kata. Benar-benar sulit melawan pemikiran dan kata-kata Iblis. Aku mencari-cari dalam benakku kata-kata dalam ayat suci untuk menjawab sang Iblis. Tapi otakku seperti buntu. Mestinya aku tidak hanya membaca tanpa memahami huruf-huruf itu setiap malam. Apakah ada yang bisa kugunakan untuk melawan kata-katanya? Kusadari kepercayaan diriku mulai runtuh saat aku tidak kunjung menemukan jawaban yang ampuh. Sejenak aku berpikir, bagaimana cara melawan sosok iblis ini? hanya dengan iman? atau hanya percaya dengan kekuasaan Tuhan? oh ya, harusnya sejak tadi aku menyebut nama Allah, tapi justru sekarang yang terlontarkan dari mulutku hanya sebuah bentakan, “Hah! Engkau memang benar-benar iblis! Pintar sekali memutar balikkan fakta. Memutar balikkan fakta seperti inilah yang menjadi ciri yang tak pernah lepas dari ke iblisanmu.” Dia terdiam, dan aku agak sedikit lega. Sepertinya si iblis mulai kalah dengan bentakanku tadi.

    Tak lama iblis mulai bertanya lagi, “Apakah kau tidak membenci malaikat pencabut nyawa?”

    Ini seperti sebuah pertanyaan tolol. Mudah sekali menjawabnya, pikirku.

    “Kenapa harus membenci? Ia malaikat! Tentara Allah! Mahluk suci yang tidak mau berpaling dari Allah. Tidak sepertimu!”

    “Bukankah ia yang mencabut nyawamu?”

    “Ia menjalankan itu atas perintah Allah! Itu tugasnya, Bodoh!” Makianku akhirnya terlontar juga di atas ketidaksabaranku.

    “Bukankah aku pun demikian? Aku hanya menjalankan tugas.” Sahutnya perlahan.

    “Entah apa kepercayaanmu terhadap Allah, tapi semestinya kau tahu bahwa rencana Allah yang mendudukan manusia, iblis dan malaikat dalam hubungan seperti ini. Kita hanya menjalankan tugas kita masing-masing.” Aku terdiam. Percakapan ini pasti akan sangat panjang, dan penuh dengan pertengkaran kalau dilanjutkan. Menyebalkan. Walau keyakinanku tidak akan surut, bahwa aku adalah sang benar yang tengah melawan sang iblis, tapi aku perlu berpikir secara strategis untuk menghadapinya. Tidak ada gunanya mengikuti perdebatan dengan Iblis. Bagaimana pun ia Iblis dan aku manusia. Apakah manusia berkuasa untuk mengalahkan Iblis? Mestinya, ya. Tapi kekuasaan itu entah derajatnya lebih rendah atau lebih tinggi dari kekuasaan sang Iblis untuk menggoda manusia. Aku tidak tahu, dan tidak mau berspekulasi.

    Tiba-tiba ia berkata, “Kalau aku menjadi pengikut Allah yang setia, apakah manusia tidak akan membenci aku?”

    Aku terkejut sejenak. Ini pertanyaan sulit. Siapa manusia yang mau percaya bertobatnya sang Iblis? Kepercayaan itu barang mahal dalam
    dunia.

    “Aku tidak tahu.” jawabku. “Hati manusia tidak bisa terbaca semudah membaca tulisan dalam buku. Panjang-pendeknya akal manusia juga tidak terukur dalam dimensi yang mudah diukur. Lagipula mengapa kau begitu terganggu soal benci-membenci ini?”

    “Manusia memang begitu.” katanya. Sedikit tersenyum ia melanjutkan.

    “Kadang Iblis lebih jujur dibandingkan manusia.”

    “Hah…!” sergahku pendek.

    “Benar. Iblis tidak pernah menyangkal dirinya sebagai pembuat kejahatan. Tapi manusia tidak demikian bukan? Di hadapan sang Khalik- pun manusia masih bisa berdusta.”

    “Tidak di hari akhir. Di pengadilan akhirat nanti, tidak akan ada yang mampu berdusta ketika dihadapkan pada sang Khalik.” kataku yakin.

    “Tapi ya, di dunia bukan?” sang Iblis menatapku dengan matanya yang kini tidak berair lagi.

    “Tuhan, Allah, tidak hanya menunggu di perhentian terakhir. Dia menyertai manusia sepanjang hidupnya. Apakah kau tidak merasakannya?”

    Apakah aku merasakannya? Aku tidak tahu pasti. Kadang ada saat-saat Allah terasa begitu dekat. Tapi seringkali aku juga merasa tidak ada siapapun di dunia ini.

    “Allah tidak membutuhkan manusia untuk merasakannya. Ia pasti hadir.” Aku terkejut sendiri dengan kata-kata yang terlontar tiba- tiba dari bibirku. Bagaimana pun, itu jawaban diplomatis yang bagus bukan?

    “Tapi manusia sering berdusta dalam doa, berdusta dalam karya, bicara, kata-kata dan perbuatan.” kata Iblis.

    “Atas bujukanmu tentu.” sahutku pendek.

    “Atas perintah Allah pula tentu.” sahutnya tersenyum.

    Brengsek, aku terjebak lagi. Kusadari upaya main kotorku untuk membujuk sang iblis telah gagal total. Tinggal satu cara menyelesaikan perdebatan tidak bermutu ini.

    “Cukup! Hapus air mata palsumu itu dan pergi dari rumahku sekarang juga!” Bentakku dengan harap-harap cemas.

    “Apakah kau masih membenci aku?” Tanya sang Iblis lagi.

    Aku terdiam sesaat. Harus ada jawaban yang tuntas untuk sang Iblis. Jadi aku katakan saja,

    “Walaupun kita sama-sama mahluk Allah, tapi kita berbeda. Membencimu adalah dalam koridor tugasku sebagai manusia dan penyembah Allah. It is just business, nothing personal.” Ia terdiam. Lalu dalam sekejap ia hilang tak berbekas.
    Ugh…mimpi!! Mimpi buruk atau sebuah mimpi dari Allah yang mengingatkanku akan pentingnya iman manusia.

  12. @ tiang alit

    bro, jangan melihat sesuatu dari satu sisi.. apa anda hanya membayangkan iblis dari perspektif bahwa iblis adalah mahluk jelek bertanduk, berbuntut, berkepala botak yang diciptakan Tuhan untuk menghasut manusia dan menjebloskannya ke neraka??
    Kalau begitu saya ingin menggugatNya.. kenapa iya ciptakan mahluk jelek bernama iblis itu? kenapa ketika si iblis melawan Tuhan, Tuhan tidak memusnahkannya saja? kenapa Ia biarkan iblis berkeliaran untuk mengKAFIRkan manusia? permainan macam apa yang dimainkanNya?? ia ciptakan sesuatu, kemudian mematikannya kemudian ia jebloskan ke surga dan ke neraka??
    Ternyata hidup memang aneh…

    but, Thanx anyway

  13. hehe wah bro..
    anda belom memahami sejarah iblis dengan baik..
    sebenarnya saya hanya menyayangkan kenapa anda beriskukuh untuk membela iblis.. bukankah anda punya Tuhan???

    sebelum diciptakan manusia Iblis adalah malaikat yang terbaik.. tetapi ia diperintahkan untuk bersujud, sang iblis malah membangkang perintah dari Tuhannya sendiri.. Tuhan yang mesti ia sembah dan patuhi, Tuhan yang telah meciptakannya dari panasnya api..
    sang Iblis mempunyai argumen bahwa ia lebih mulia dari manusia dari segala segi (ini membuktikan sifat sombong Iblis di depan Tuhannya sendiri) disitu kita bisa melihat dimanakah otak sang Iblis.. apa yang patut ia sombongkan di depan sang Khalik.. apa yang bisa ia banggakan didepan Sang Illahiyah.. Bukankah sang Iblis hanya makhluk ciptaan-Nya.. lalu kenapa ia tidak mau taat.. jika memang Iblis mengaku makhluk yang paling setia kenapa ia membantah???
    dan karena kesombongan dari iblis maka iblis pun dilaknat.. ia di usir dari surgawi ke dunia yang kasar.. Iblis mau menerima hukuman ini dengan beberapa syarat (nah ini yang belom anda ketahui) :

    IBLIS MERASA TIDAK MENDAPAT KEADILAN KARENA DIUSIR DARI SURGA MAKA IBLISPUN BERJANJI AKAN MENYESATKAN SELURUH UMAT MANUSIA DENGAN BERBAGAI JALAN AGAR MANUSIA TIDAK AKAN MERASAKAN SURGA (untuk menjawab pertanyyan “kenapa Ia biarkan iblis berkeliaran untuk mengKAFIRkan manusia” pesan saya hati2lah dengan segala tipu daya iblis bro..)

    IBLIS MEMOHON AGAR KEMATIANNYA DITANGGUHKAN DENGAN KATA LAIN IA MINTA AGAR UMURNYA DIPERPANJANG SAMPAI HARI KIAMAT TIBA.. (ini untuk menjawab pertanyaan “kenapa ketika si iblis melawan Tuhan, Tuhan tidak memusnahkannya saja”)

    PERMOHONAN IBLIS YANG KETIGA ADALAH IA MOHON AGAR MANUSIA TIDAK DAPAT MELIHATNYA AKAN TETAPI IA DAPAT MELIHAT MANUSIA

    dan untuk menjawab pertanyaan sodara yang terakhir permainan macam apa yang dimainkanNya?? ia ciptakan sesuatu, kemudian mematikannya kemudian ia jebloskan ke surga dan ke neraka??

    KARENA JANJI IBLIS YANG PERTAMA “IBLIS MERASA TIDAK MENDAPAT KEADILAN KARENA DIUSIR DARI SURGA MAKA IBLISPUN BERJANJI AKAN MENYESATKAN SELURUH UMAT MANUSIA DENGAN BERBAGAI JALAN AGAR MANUSIA TIDAK AKAN MERASAKAN SURGA” MAKA TUHAN MEMBERIKAN HARI YANG DINAMAKAN HARI PENGADILAN DIMANA DIHARI ITU SETIAP MANUSIA AKAN DI TIMBANG DAN DIPERTANYAKAN PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS HIDUPNYA DI DUNIA.. APAKAH IA TERMASUK GOLONGAN YANG MENGIKUTI IBLIS ATAU GOLONGAN YANG SETIA KEPADA PENCIPTANYA..

    andalah yang akan menentukan jalan hidup anda sendiri..

    thx..

  14. Tuhan menciptakan tempat penyiksaan abadi bernama neraka.

    Tuhan menciptakan iblis yang berpotensi menggelincirkan manusia ke dalam neraka.

    Tuhan nggak butuh disembah… tapi kalo kita gak nyembah dia, kita bakalan dipanggang di neraka.

    Katanya dalam agama tidak ada paksaan… tapi kalo milih agama selain yg direstui-Nya, kita termasuk orang yg merugi di akhirat.

    Tapi Dia itu maha penyayang loh 😆

  15. @ atas
    George Carlin banget… 😆

  16. buku bagus yang patut di jadikan koleksi, begitu cerdas Shawni mengungkapkan angel yang beda dari suatu ketentuan, sangat brani, tetapi juga dapat di mentahkan oleh opini lain yang tidak untuk mementahkan tapi hanya disandingkan dalam analogi2 tanpa batas. Membaca buku ini memang harus memiliki kadar keimanan yang mantap yang akhir malah harus menambah kadar keimanan kita akan keESAanNya…bravo Shawni!!!

  17. pemikiran yang bener2 genius bin ajaib. Siapa yang sangka kalau iblis menggoda manusia hanx karena perintah dari tuhan……..

  18. iblis jatuh karna kesombongannya

  19. iblis jatuh karna kesombongannya

  20. iblis tidak mau menuruti printah ALLAH, dia lebih mengikuti keinginannya sendiri.
    itulah yang membuat dia jatuh
    dalam dosa.

  21. Kebenaran yg saya yakini;
    1. ALLAH itu ada,
    2. Makhluk ciptaan ALLAH itu ada.

    A.
    – ALLAH mencipta semua makhluk (tujuannya hanya ALLAH yang tau pasti)…
    – Makhluk (Termasuk Manusia) hanya mereka-reka, tambah lama rekaan mereka menjadi-jadi dan seakan berubah menjadi kenyataan (padahal hanya rekaan), semua telah disetting oleh ALLAH (termasuk rekaan kita dan saya sendiri) tanpa kita sadari ataupun disadari… (ALLAH berhak! Karena ALLAH maha pencipta!) Sadarlah, kita ini ciptaan ALLAH…

    B.
    – ALLAH tau apa yang kita pikirkan (termasuk manusia, jin, iblis dan malaikat sekalipun), tanpa ada batasan waktu…
    – Makhluk (termasuk Manusia) hanya berjalan-jalan, berlari dalam ruang otaknya saja… Saya ingin mengatakan… Kita akan disayang ALLAH jika kita merasa disayang ALLAH…

    C.
    Terlepas iblis menggoda manusia apakah atas dasar kemauannya atau apakah atas dasar perintah ALLAH (seperti yang dibicarakan di forum ini),.. Terlepas dari itu semua… Apakah kita sadar bahwa kita adalah ciptaan? Bahwa kita adalah makhluk? Bahwa kita tidak ada apa-apanya namun sombong? Apakah kita tidak sudi jika sudah diciptakan? Bisakah kita kembali kepada ketiadaan? Siapa yang mencipta ketiadaan? Siapa yang mencipta keberadaan? Ini bukan sekedar permainan… Ternyata ALLAH semakin membentuk jiwa kita masing-masing… Kemauan kita telah disetting oleh ALLAH… Mau kafirkah? Mau beragama kah? Mau tidakkah? Semuanya kemauan kita (namun telah diketahui ALLAH karena ia yang menyettingnya!)….

    Semuanya mengajarkan satu hal…

    Apakah Anda percaya ALLAH itu ada…??
    Apakah Anda percaya kita itu ada…??
    (Atau keberadaan kita hanya dalam benak saja??)

    Episode 2;

    Dan bagi saya…
    ALLAH adalah ALLAH…
    Jikalau ia engineer, ia adalah satu-satunya engineer… (engineer sekarang menjadi bukan engineer.)
    ALLAH tidak sama dengan makhluk…

  22. sebenarnya esensi seluruh ciptaanNya berawal dari Nur Muhammad SAW.
    karena sebelum Allah SWT menciptakan sesuatu, maka yang pertama kali diciptakan adalah Nur Muhammad SAW.
    Dari nur inilah diciptakan akhirat, malaikat (iblis dulu juga termasuk malaikat), surga & neraka, alam semesta beserta isinya.
    Kenapa Allah SWT memerintahkan para Malaikat untuk bersujud (dalam konteks ‘Menghormati’) nabi Adam, karena dari anak-cucu nabi Adamlah akan terlahir seorang Manusia, dimana dari manusia tersebut semua esensi penciptaan di’Ada’-kan. Manusia tersebut adalah Rasullulah SAW.
    Analoginya, sudah sepatutnya kita ‘menghormati’ orang tua kita, dimana dari beliaulah kita ‘ada’.
    seperti halnya, sudah sepatutnya Allah SWT menyuruh para malaikat ‘menghormati’ nabi Adam, karena dari beliaulah akan lahir ‘inti’ dari segala penciptaanNya.

    Allahu’alam…..

  23. sekedar buat referensi atau penambah wawasan rohani aja.
    semoga bermanfaat.

    Pengantar

    Kitab Mawahibul Laduniyyah bil Minah al-Muhammadaniyyah (Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah) ditulis oleh Imam Ahmad Shihabuddin ibn Muhammad ibn Abu Bakr al-Qastallani (wafat 923H/1517 M), seorang ahli hadits yang mengarang syarah Sahih Bukhari (Irsyad as-Sari). Kitab Mawahib karangan beliau ini adalah kitab yang berisi biografi Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam.

    ===============================================

    A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
    Bismillahirrahmanirrahiim
    Wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyaa-i wal Mursaliin Sayyidina
    Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi ajma’in

    dari
    Mawahib al-Laduniyyah bi al-Minah al-Muhammadaniyyah[*]
    (Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah)
    oleh Ahmad Shihab Al Deen Al Qastallani

    Penciptaan Ruh Nabi Sall-Allahu ‘alayhi Wasallam

    Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan keputusan Ilahiah untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan Haqiqat Muhammadaniyyah (Realitas Muhammad –Nuur Muhammad) dari Cahaya-Nya. Ia Subhanahu wa Ta’ala kemudian menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas maupun bawah. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memberitahu Muhammad akan Kenabiannya, sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (dari Muhammad) keluar tercipta sumber-sumber dari ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan lainnya, dan menjadikannya pula ayah dari semua makhluq yang wujud. Dalam Sahih Muslim, Nabi (SAW) bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia, peny.) sebelum Ia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Umm al-Kitab (induk Kitab), adalah bahwa Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah Penutup para Nabi. Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahwa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”

    Maysara al-Dhabbi (ra) berkata bahwa ia bertanya pada Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”

    Suhail bin Salih Al-Hamadani berkata, “Aku bertanya pada Abu Ja’far Muhammad ibn `Ali radiy-Allahu ‘anhu, `Bagaimanakah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam bisa mendahului nabi-nabi lain sedangkan beliau akan diutus paling akhir?” Abu Ja’far radiy-Allahu ‘anhu menjawab bahwa ketika Allah menciptakan anak-anak Adam (manusia) dan menyuruh mereka bersaksi tentang Diri-Nya (menjawab pertanyaan-Nya, `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’), Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam-lah yang pertama menjawab `Ya!’ Karena itu, beliau mendahului seluruh nabi-nabi, sekalipun beliau diutus paling akhir.”

    Al-Syaikh Taqiyu d-Diin Al-Subki mengomentari hadits ini dengan mengatakan bahwa karena Allah Ta’ala menciptakan arwah (jamak dari ruh) sebelum tubuh fisik, perkataan Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam “Aku adalah seorang Nabi,” ini mengacu pada ruh suci beliau, mengacu pada hakikat beliau; dan akal pikiran kita tak mampu memahami hakikat-hakikat ini. Tak seorang pun memahaminya kecuali Dia yang menciptakannya, dan mereka yang telah Allah dukung dengan Nur Ilahiah.

    Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bahkan sebelum penciptaan Adam; yang Ia telah ciptakan ruh itu, dan Ia limpahkan barakah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam pada `Arasy Ilahiah, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Dus, Haqiqat Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian. Al Syi’bi meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau menjawab, “ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.” Karena itulah, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.

    Diriwayatkan bahwa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah satu-satunya yang diciptakan keluar dari sulbi Adam sebelum ruh Adam ditiupkan pada badannya, karena beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah sebab dari diciptakannya manusia, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah junjungan mereka, substansi mereka, ekstraksi mereka, dan mahkota dari kalung mereka.

    `Ali ibn Abi Thalib karram-Allahu wajhahu dan Ibn `Abbas radiy-Allahu ‘anhu keduanya meriwayatkan bahwa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam): seandainya Muhammad (SAW) diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan mendukung beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.

    Diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, Ia Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata, “Wahai, Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?” Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab, “Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn `Abdullah; jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi.” Mereka menjawab, “Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.” Allah berfirman, “Apakah Aku menjadi saksimu?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai mengikat dirimu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”(QS 3:81).

    Inilah makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: `Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hukmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’” (QS 3:81).

    Syaikh Taqiyyud Diin al-Subki mengatakan, “Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Karena itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Jadi, sabda sayyidina Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), “Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia,” bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.” Berpijak dari hal ini, Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isra’ Mi’raj, saat mana para Nabi melakukan salat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau.

    Allahumma salli afdalas salaati ‘ala habiibikal Mushtofa Sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi wasallaam

  24. kontol la kalian smua

  25. Subhanallah…
    Bantu aku untuk mencintai kekasih-Mu, ya Allah.
    Aamiin.

  26. slamat tinggal iman..
    slamat dtang iblis ku ter sayang..

  27. anda anda yg tdk mengerti hanyalah memaki islam krn tdk tau proses penciptaan manusia.jgn sampai orang orang begini yg meyakini tdk ada tuhan dan alam gaib.kacian de loe!!!!!!!!!

  28. penciptaan manusia sudah sempat diragukan oleh malaikat…..tapi allah lebih maha mengetahui kehendakNya….. saya salut dengan anda bro….. sudah membuat banyak berkomentar…… kalo mau lebih jelasnya baca bukunya bro judulnya iblis menggugat tuhan….. itu kita diajak untuk berfikir tentang ketauhidan dan buku itu dibentuk novel agar kita mudah memahaminya…. tapi ingat jangan membacanya setengah2 apalagi sambil tidur ……..bisa sesat lo nanti…….

  29. Akhirnya The Madness of God di bahas di Forum ini..
    Mantap, semoga kita masuk SorgaNya Allah..
    Amiin…

  30. Dimana saya bisa dapatkan buku ini lagi? ingin sekali membacanya sampai tuntas, selalm ini saya hanya mendengar dari teman dan membaca rangkuman2 nya di internet.

  31. Apa kalian pikir semua kejahatan perbuatan dosa yg di lakukan manusia adalah hasil hasutan IBLIS … ??
    saya bertanya Ketika Adam melanggar perintah dgn khuldi nya , apakah itu juga atas hasutan Iblis … Ingat bro ketika itu iblis telah terusir .. bagaimana mungkin iblis bisa mendekati adam dan menghasutnya di tempat itu , tempat IBLIS telah terusir …bagaimana bisa mahkluk yg telah di usir dr suatu tempat bisa kembali ke tempat dia terusir .. bagimana ?? menyamar menjadi ular ?? menyamar dari pantauan siapa ?? dari pantau an tuhan ..bagaimana mungkin .. ALLAH MAHA MENGETAHUI .

    • Kuncinya dari novel ini ketika buhaira bertemu rasulullah dan menceritakan apa yg diceritakan iblis……
      Lalu dgn mudahnya rasulullah menjawab jangan lah kamu memikirkan apa yg tidak dpt kamu fikirkan.

        • Rayya
        • Posted October 2, 2012 at 5:11 pm
        • Permalink

        KUNCI apa .. Kunci gembok !!!

  32. di luar dari segi kesombongan iblis,iblis adalah hamba yang paling konsisten

  33. I think the admin of this web page is truly working hard
    for his website, since here every material is quality based information.

  34. iblis ppun mngbdi….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: